Senin, 01 Februari 2016

Tentang Ketiadaan dan Memilih “Sendiri”

Beberapa hari lalu, aku baca tulisan dari blognya Alexander Thian di aMrazing.com, tentang depresi dan keinginan untuk bunuh diri dan galau tentang usia 20an. Sebelumnya, terimakasih untuk tulisannya koh Alex :) segala tulisan koh Alex banyak menginspirasi. 

Dari tulisan Koh Alex, kemudain aku mengaca pada diri. Depresi ? Yes, dulu aku pernah merasakan. Dan diluar sana banyak kok pasti yang mengalami depresi. Bedanya, bagaimana mereka "mengekspresikannya". Diluar sana, aku "memperkenalkan" diri sebagai orang yang ceria. Ketawa sana-sini, bikin orang ketawa sana-sini dan rasanya bahagia aja bisa bikin orang lain ketawa sejenak. Tapi dibalik itu, ada hidup yang tidak mudah tapi berhasil terlewati.
Aku pernah merasa kosong didalam hidup, soal ketiadaan dan kesepian. Tentang berperang dengan diri sendiri dan sulitnya berdamai dengan masa lalu. Riwayat hidup seorang lalal kecil tidaklah mudah, tapi aku bersyukur bahwa segalanya sudah terlewati dan aku tumbuh didalam sana. Bahkan dari kecil, aku sudah belajar bahwa bersikap dewasa itu harus. Berawal dari bangkrutnya kantor Ayah yang seakan membalik hidup begitu saja. Nggak, hidupku sebelum kantor Ayah bangkrut tidak semuanya enak, hanya saja itu lebih lebih bersyukur. Setelah kantor Ayah bangkrut, meninggalnya mama dan hidup ku yang seakan dioper sana-sini. Dari kecil, aku sudah belajar tentang perpindahan dan merantau sendiri. Tinggal ikut kakek-nenek, kemudian pakde-budhe, baru setelahnya ikut Ayah-Ibu.
Dari kecil, aku sudah belajar tentang memahami keadaan. Disaat anak-anak lain mungkin menetap disuatu kota sambil bermain, lalal kecil sudah pindah-pindah kota dan belajar memahami hidup. Hidup sama orang lain bikin jiwaku sakit, perasaan tidak nyaman, pernah mendapatkan perlakukan kurang baik, dan dewasa terlalu cepat membuat lalal kecil merasa nggak punya siapa-siapa buat berbagi. Bahkan untuk sekedar cerita kaya anak-anak seusianya yang cerita hari ini disekolah ada apa dan bagaimana. Terbiasa jadi outsider dan terasingkan sendiri dari keluarga sejak kecil, semua terbawa samapi detik aku nulis sedikit pengalamn hidup diblog ini.
Semua berlalu begitu cepat, sampai pada kepindahan ke kalimantan yang ku kutuk sendiri didalam hati membuat lalal kecil yang beranjak remaja mengutuk masa lalunya. Benci oleh keadaan, benci oleh orang sekitar, dan sempat benci pada hidup. Masa-masa peralihan anak-anak ke remaja yang harus dijalani begitu-begitu saja, tidak punya tempat cerita dan tidak punya kesempatan cerita tentang siapa pacar pertama, cinta pertama dan siapa yang disuka diam-diam. Yang terjadi disini, mungkin bukan soal nggak ada teman cerita soal hidup tapi lebih ke sudah biasa memendam segalanya sendiri.
Masuk SMA, awal luka dan cerita yang baru :). Sedih tentang perlakuan orang sekitar yang hanya bisa menganggap lalal hanya seorang perempuan bodoh yang bisanya hanya jadi benalu (well, itu pernah dibilang anggota keluarga secara gamblang :"D) bahwa seorang lalal hnya bisa pergi bermain dan bermain. Beda dengan kakak adeknya yang dirumah, tidka pernah menyusahkan, tidak pernah nakal dan bragajulan kaya seorang lalal tanpa pernah mau tahu apa yang kurasa dan bagaimana keadaan, tanpa mau tahu alasan dan penyebabnya. Tapi masa SMA adalah masa-masa terindah dibalik masa kelam yang pernah terjadi. Di SMA, aku ketemu sahabat, aku ketemu teman baik. Dari mereka aku merasa hidup yang sudah disyukuri harus lebih lebih disyukuri. Dari bertemu sahabat, aku merasa hidup, mereka mengajarkan aku banyak hal, dari mereka aku merasa well, i'm not alone. Mereka mengerti banyak dari orang yang seharusnya mengerti aku paling banyak. Dear sahabat, terimakasih yaaa untuk semuanya.
Sampai pada masa merantau untuk kuliah, nggak tau kenapa perasaaan kok bahagia banget keluar dari rumah, bukan karena bebas. Tapi merasa ya lebih baik begini, memilih sendiri, toh dari kecil aku sudah merasa sendiri ditengah keramaian :) . Namun setelah nggak lama merantau, disini titik balik hidup yang kurasakan.Sedih mereasa selalu terus-terusan sendiri, tengah malam nangis diam-diam. Capek hati, capek badan dan capek jiwa. Iya, aku benar-bener ngerasa sudah lelah-lelahnya, merasa dititik jenuh-jenuh. Satu malam kebangun dan merasa i'm deserve happy and better, ngerasa sampai kapan merasa kaya gini. Hidup bakal gak sehat sendiri kalau lama-lama begini. Merenung dan berkaca, sesuatu baru harus kulakukan. Mungkin cara yang paling tepat adalah tentang berdamai dengan masa lalu. Iya, besoknya aku belajar untuk berdamai dengan masa lalu, memaafkan diri sendir, memaafkan keadaan, dan memaafkan segala yang pernah terjadi. Pelan-pelan hidup berasa berubah, pelan-pelan semuanya terasa lebih baik. Bahkan lebih baik dari apa yang pernah terjadi.

Semua butuh proses, untuk berdamai dengan masa lalu, aku berperang dengan diri sendiri, dengan hati dan logika. Sampai dimana semuanya sudah berasa lega. Disitu aku sadar, bahwa segala yang terjadi membawa aku ketempat ini, membawa aku ketempat dimana seharusnya aku berada. Membawa aku menjadi bagaimana aku menjadi sekarang. Sekarang jelas, bahwa masa lalu tidak pantas untuk dikutuk. Dengan kejadian-kejadian yang pernah terjadi, mengajarkan ku tentang banyak sekali hal. Sesuatu yang jelas berharga lebih dari sekedar uang. Karena titik terendah yang pernah ku alami, aku belajar dari hidup sejak awal. Karena titik rendah yang pernah terjadi mengajarkan menjadi dewasa pada tempatnya. Menyadari ya begini lah hidup, bahwa segalanya perlu dijalani, dan diberi jalan sehingga mulus jalannya. Aku dewasa bukan karena usia, aku belajar dewasa karena perjalan hidup dan segala hal yang pernah terjadi didalamnya.
Sekarang, semua terasa baik-baik saja. Apapun yang akan terjadi, ku rentangkan jalan agar semua berjalan mulus dan mudah untuk dilewati.

Dititik ini aku belajar, bahwa tiada satu orang pun yang salah. Yang salah adalah ketika aku masih memutuskan untuk stuck dizona dendam dan masa lalu dan tidak pernah mau berdamai untuk masa lalu. Aku memutuskan untuk berhenti mengutuk masa lalu, karena aku sadar, masa lalu ada bukan untuk dikutuk, tapi ada untuk ditertawakan :).