Rabu, 15 April 2015

Tentang Perempuan, untuk laki-laki


Hallo, para lelaki yang masih hobby bersenang-senang, sedang serius pada pendidikannya, yang sedang meniti karier dan yang sudah mapan sekalipun, semoga Tuhan bersama dalam setiap langkah kalian.
Bacalah, ini ada sebuah surat tentang perempuan, untuk laki-laki.


Hai para calon imam masa depan. Semoga ketika kalian membaca ini, kalian dengan keadaan baik-baik selalu. Kami para perempuan, selalu mendoakan agar laki-lakinya selalu dalam lindungan Tuhan. Berdoa agar setiap langkah yang kalian ambil tidak salah dan membawa keberkahan dalam hidup.
 
Kami perempuan bukan manusia sempurna. Kami diciptakan dari tulang rusuk kalian. Maka itu adalah kami dan kami adalah pelengkap dan penyempurna hidup kalian.
Jika ada orang yang mengatakan kami adalah manusia matrealistis, itu salah. Kami bukanlah barang, yang bisa dibeli apalagi diperjual belikan. Kami perempuan tidak matrealistis, kami realistis. Kami tidak selalu memandang segala dengan harga, karena hati jauh lebih penting dan harga bukanlah sebuah sumber bahagia.
Di umuran yang sudah menjadi perempuan dan bukanlah gadis remaja menye-menye lagi, kami tak lagi mencari mereka yang dengan bangganya pamer harta kekayaan orangtua.

Para lelaki, kami realistis, bukan matrealistis. Oleh dari kami mau para laki-laki pekerja keras. Bukan untuk hidup hedonisme kami, tapi sadar bahwa cinta saja tidak akan pernah cukup. 

Kami realistis, bukan matrialistis. Karena itu kami rela bersekolah tinggi dan membangun karier agar kebutuhan kami terpenuhi. 

Kami realistis, bukan matrelialistis. Kami rela banting tulang agar kami tidak hidup susah. Kami tahu berjuang bersama itu nikmat, tapi kami tidak mau hidup susah selamanya. Apa kalian tidak malu laki-laki yang masih hobby bersenang-senang ? Bahwa perempuan saja sekolah dengan benar dan bekerja keras demi mandiri dan terpenuhi kebutuhannya. Sementara kalian masih sibuk pergi ke coffee shop, mall, game centre dan hiburan malam setiap harinya ?

Sekali lagi, para lelaki. Kami realistis, bukan matrealistis. Kami realistis bahwa uang sekolah, susu, vaksin anak, listrik air, rumah bahan makanan, skin care, juga krim siang-malam kami tidak cukup dengan kata “Saya Cinta Kamu”. Para lelaki, kami realistis, bukan matrealistis. Bahwa kami ingin hidup dengan lelaki yang mau bertanggung jawab atas kami.

Karena kita, hidup dizaman uang 1juta cuman cukup untuk beli lipstik 4biji.

With Love, dari perempuan teruntuk laki-laki